BPOM Lampung Bersinergi Bersama Dinas Kesehatan dan Dinas Permberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak untuk Perangi Stunting

26-08-2025 Balai Besar/Balai POM Dilihat 143 kali

Lampung Timur - Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Bandar Lampung mengadakan kegiatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) mengenai stunting di Desa Taman Cari, Purboinggo, Lampung Timur pada Selasa (26/8/2025). Kegiatan ini bertujuan untuk mendukung program pemerintah dalam mengentaskan stunting. Kegiatan ini dihadiri oleh narasumber dari internal BBPOM, Dinas Kesehatan, dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Lampung Timur.

Kegiatan dihadiri oleh 60 peserta yang berasal dari berbagai komunitas meliputi kelompok ibu dengan bayi stunting, para kader posyandu, ibu rumah tangga, pelajar, dan remaja yang berasal dari Desa Taman Cari yang merupakan Desa Intervensi Stunting Tahun 2025. Kegiatan berlangsung dengan baik dan peserta aktif berpartisipasi selama kegiatan berlangsung. 

Materi yang disampaikan juga menarik, meliputi materi tentang Stunting dan Keamanan Pangan yang disampaikan oleh Sri Wulan Mega selaku Ketua Tim KIE Substansi Infokom BBPOM di Bandar Lampung, Pemenuhan Gizi yang Seimbang untuk Pencegahan Stunting oleh Miftachul Hidayah selaku Konselor Menyusui dan  Konselor PMBA Penata Kelola Layanan Kesehatan Dinas Kesehatan Kab.Lampung Timur, dan juga Peran Keluarga dalam Mencegah Stunting dan Melindungi Generasi Emas yang disampaikan oleh Titin Wahyuni selaku Plt. Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kabupaten Lampung Timur. 

Stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada anak balita akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Stunting dapat pula diartikan kegagalan seorang anak untuk tumbuh dan berkembang secara optimal disebabkan dampak  dari kekurangan gizi secara kumulatif dan terus menerus. Hal ini berdampak buruk bagi perkembangan generasi bangsa ke depannya, dampak dari stunting pada suatu negara sangat signifikan di bidang ekonomi, seorang dengan stunting cenderung memiliki produktivitas yang rendah sehingga berdampak dapat berdampak penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) secara nasional. Oleh karena itu generasi Indonesia harus terbebas dari stunting untuk mewujudkan generasi yang sehat, cerdas, dan kuat di masa depan. 

Pada kegiatan ini disampaikan bahwa dalam menangani stunting perlu adanya sinergi multi komponen baik itu dari segi gizi anak, insfrastruktur, dan juga yang tidak kalah penting yaitu keharmonisan rumah tangga dan pola asuh orang tua. Menurut Miftah, ada dua intervensi yang bisa dilakukan untuk mencegah stunting di antaranya intervensi spesifik dan sensitif. Intervensi Spesifik adalah  kegiatan langsung yang berkaitan dengan penyebab stunting dan ditujukan pada kelompok sasaran prioritas atau dalam kata lain fokus di sector kesehatan, sedangkan Intervensi Sensitif adalah berbagai kegiatan dan program yang mengatasi penyebab tidak langsung atau faktor lingkungan tidak langsung stunting, seperti sarana dan infranstruktur untuh memperoleh air bersih, fasilitas kesehatan, makanan bergizi, dan sanitasi yang layak.

Dari segi gizi yang paling penting adalah kondisi calon ibu yang sehat, kecukupan gizi ibu saat hamil dan kecukupan gizi anak terutama saat 1000 hari pertama kehidupan (HPK). Titin menambahkan, menurutnya hal yang tidak kalah penting adalah keharmonisan dan pola asuh keluarga, menurutnya dewasa ini banyak pasangan yang menikah dini dan belum siap membesarkan dan mendidik anak sehingga terabaikan baik dari segi kebutuhan gizinya ataupun kebutuhan mentalnya.Selain itu Gizi yang cukup dan seimbang saja tidak cukup, wulan menambahkan agar selalu memastikan makanan yang dikonsumsi aman dan terbebas dari tiga jenis cemaran, baik itu cemaran biologis, kimia, dan fisika.

Dengan telah dilaksanakannya kegiatan KIE ini BPOM berharap seluruh komponen masyarakat tanpa terkecuali semakin peduli dan tahu masalah mengenai stunting dan pencegahannya. (GAH)

Sarana